Yogyakarta, 26 Agustus 2026 — Bagaimana kondisi kesejahteraan hewan di Indonesia dilihat dari perspektif mahasiswa internasional? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari percakapan yang dibangun Animal Friends Jogja (AFJ) dalam ACICIS NGO Fair pada Rabu (26/8). Melalui kegiatan ini, AFJ mengajak mahasiswa Indonesia dan internasional untuk mengenal lebih dekat berbagai persoalan kesejahteraan hewan sekaligus membuka ruang pertukaran perspektif.
Di booth AFJ, mahasiswa tidak hanya mendapatkan informasi mengenai organisasi, tetapi juga berdiskusi mengenai berbagai isu yang masih jarang dibicarakan, salah satunya kesejahteraan hewan dalam sistem peternakan.
Isu kandang baterai dan cage-free menjadi salah satu topik yang menarik perhatian. Salah seorang mahasiswa yang berdiskusi dengan AFJ menilai bahwa isu cage-free masih jarang menjadi perhatian masyarakat. Ia mengapresiasi bagaimana AFJ membawa persoalan kesejahteraan hewan yang diternakkan ke ruang publik, ketika praktik pemeliharaan tertentu selama ini cenderung dianggap sebagai hal yang biasa.
Diskusi tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan pengalaman antara mahasiswa dengan kondisi peternakan intensif. Sejumlah mahasiswa lebih familiar dengan ayam yang dipelihara secara diumbar di lingkungan rumah dan kemudian membandingkannya dengan konsep free-range.
AFJ menjelaskan bahwa pengalaman tersebut berbeda dengan kondisi dalam sistem peternakan intensif. Penggunaan kandang baterai, misalnya, relatif tidak terlihat oleh masyarakat karena akses terhadap fasilitas peternakan umumnya terbatas. Hal ini membuat kondisi pemeliharaan hewan dalam industri peternakan menjadi isu yang penting untuk terus diperkenalkan kepada publik.
Membawa Isu Lokal ke Perspektif Global
Bagi AFJ, mahasiswa internasional memiliki posisi penting dalam memperluas percakapan mengenai kesejahteraan hewan di Indonesia. Pertemuan dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda dapat menjadi ruang untuk membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara asal mereka sekaligus membuka perspektif baru bagi gerakan kesejahteraan hewan.
“Mahasiswa internasional penting untuk diajak memahami isu kesejahteraan hewan di Indonesia sebagai ruang refleksi dan pertukaran perspektif. Mereka dapat membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara asalnya, sekaligus memberikan perspektif baru bagi gerakan kesejahteraan hewan di Indonesia,” ujar Nanda, perwakilan Animal Friends Jogja.
Partisipasi AFJ dalam ACICIS NGO Fair sendiri telah dilakukan selama beberapa tahun. Selain memperkenalkan isu kesejahteraan hewan, kegiatan ini menjadi salah satu ruang bagi AFJ untuk mengajak mahasiswa yang memiliki kepedulian dan semangat aktivisme untuk terlibat dalam gerakan perlindungan hewan.
Dalam kegiatan tersebut, AFJ memperkenalkan sejumlah isu yang dikerjakan, mulai dari Farmed Animal Welfare Advocacy, Domestic Animal Welfare, Street Feeding & Stray Care, hingga Reforestation & Primate Protection.
Interaksi di booth menunjukkan respons yang cukup positif. Dari 47 mahasiswa yang mengisi formulir, sebanyak 22 orang menyatakan tertarik menjadi relawan, sementara seluruh peserta yang mengisi formulir menyatakan ingin menerima informasi lebih lanjut mengenai kegiatan AFJ.
Menurut Nanda, keterlibatan mahasiswa diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
“AFJ berharap mahasiswa mendapatkan perspektif baru, semakin terbuka dan kritis dalam melihat isu kesejahteraan hewan, terdorong untuk mengenal isu ini lebih jauh, serta tertarik untuk terlibat sebagai volunteer di AFJ,” katanya.
Mahasiswa yang ingin terlibat dapat mengikuti berbagai kegiatan AFJ secara daring maupun luring, seperti aksi online, petisi, webinar, public outreach, street action, volunteers gathering, hingga kegiatan sukarelawan di Home Care AFJ. Untuk saat ini, AFJ membuka kesempatan menjadi relawan, termasuk melalui program Volunteer FAWA (Farmed Animal Welfare Advocacy), namun belum membuka program magang.
Tertarik untuk ikut bergerak bersama AFJ? Daftarkan dirimu melalui formulir berikut:
Melalui pertemuan seperti ACICIS NGO Fair, AFJ berharap isu kesejahteraan hewan di Indonesia dapat semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat lokal tetapi juga oleh komunitas internasional yang berada dan belajar di Indonesia.