by Animal Friends Jogja

Donasi

Share

Kepedulian konsumen terhadap isu kesejahteraan hewan terus meningkat. Perubahan perhatian konsumen ini mendorong produsen pangan berbasis hewan untuk mulai mempertimbangkan sistem produksi yang lebih selaras dengan prinsip kesejahteraan hewan, salah satunya melalui penerapan sistem produksi telur bebas sangkar (cage-free).

Kondisi tersebut menjadi latar belakang penelitian “Misperceptions in egg sourcing: consumer perception and willingness to pay for cage-free eggs in Indonesia”, yang melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada dan Animal Friends Jogja (AFJ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi konsumen mengenai asal peternakan ayam petelur serta preferensi mereka terhadap telur bebas sangkar.

Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan melibatkan 575 responden dari berbagai wilayah di Indonesia. Sampel diperoleh menggunakan metode convenience sampling, sementara data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Chi-square.

Pemahaman konsumen terhadap sistem produksi telur masih terbatas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai sistem produksi di balik telur yang mereka konsumsi.

Salah satu temuan penting menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi konsumen dan kondisi produksi telur yang sebenarnya. Sebanyak 46,22% konsumen meyakini bahwa telur yang mereka beli berasal dari sistem bebas sangkar, padahal telur tersebut sebenarnya berasal dari ayam yang dipelihara dalam kandang baterai.

Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen belum selalu memiliki informasi yang cukup untuk mengetahui bagaimana ayam petelur dipelihara dan dari sistem produksi seperti apa telur yang mereka konsumsi berasal.

Potensi pasar telur bebas sangkar cukup besar

Di sisi lain, penelitian ini menemukan adanya kesediaan konsumen untuk membayar lebih untuk telur bebas sangkar. Sebanyak 44,70% responden menunjukkan kesediaan membayar (willingness to pay/WTP) untuk telur bebas sangkar.

Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi pasar bagi produk telur yang diproduksi dengan memperhatikan kesejahteraan hewan. Minat dan kesediaan konsumen untuk membayar lebih dapat menjadi peluang bagi pengembangan produk telur bebas sangkar di Indonesia.

Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan strategi yang dapat meningkatkan pemahaman dan persepsi konsumen mengenai sistem produksi bebas sangkar. Informasi yang lebih jelas mengenai asal telur dan sistem pemeliharaan ayam menjadi penting agar konsumen dapat membuat pilihan berdasarkan informasi yang tepat.

Bagi Animal Friends Jogja, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya mendorong edukasi konsumen sekaligus pengembangan produk telur yang lebih memperhatikan kesejahteraan ayam. Dengan meningkatnya perhatian konsumen terhadap kesejahteraan hewan, terdapat peluang untuk mendorong perubahan menuju sistem produksi telur yang lebih selaras dengan prinsip kesejahteraan hewan.

Penelitian selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1625/1/012030

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous

Kandang Ayam Raksasa Muncul di Kuta Beach, TOUS les JOURS Didesak Segera Terapkan Komitmen Telur 100% Cage-Free

Next

AFJ Ajak Mahasiswa Internasional Kenali Isu Kesejahteraan Hewan di Indonesia