by Animal Friends Jogja

Donasi

Share

Yogyakarta, 27 Agustus 2025 — Komik bukan sekadar hiburan. Bagi Ignadee, seniman visual sekaligus relawan Animal Friends Jogja (AFJ), komik adalah medium perjuangan untuk menyuarakan hak-hak hewan yang selama ini diabaikan.

Sejak 2017, Ignadee bergabung dengan AFJ dan telah menjalani pola makan nabati, ia merasa perlu menyalurkan kepeduliannya. “Awalnya berangkat dari kesadaran pribadi. Lalu saya ketemu komunitas yang punya kepedulian sama. Dari situ mulai bantu AFJ lewat visual, dan akhirnya berlanjut sampai sekarang,” ujarnya dalam talk show bersama Radio Love Jogja FM.

Ignadee menyoroti kenyataan bahwa di Indonesia, hewan masih dianggap sebatas benda dan sumber keuntungan ekonomi. Padahal, hewan sama seperti manusia: bisa merasakan sakit, senang, dan takut. “Banyak aturan sudah ada, tapi prakteknya masih jauh dari manusiawi. Transportasi asal-asalan, pemeliharaan yang tidak layak, eksploitasi terus berulang. Yang perlu kita ubah adalah cara pandang terhadap hewan,” tegasnya.

Dalam perspektifnya, spesiesisme—pandangan yang menempatkan manusia lebih tinggi dari hewan—adalah bentuk diskriminasi yang harus ditolak. “Punya akal budi tidak bisa jadi alasan untuk memperlakukan hewan semena-mena. Mereka punya hak dasar: bebas dari rasa sakit, bisa berekspresi sesuai perilaku alaminya. Kita sebagai manusia seharusnya mengakui dan menghormati itu,” tambahnya.

Melalui komik, isu-isu berat tentang kesejahteraan hewan bisa disampaikan lebih sederhana dan menyentuh. Ignadee sering menggambarkan hewan berbicara tentang penderitaannya sendiri, misalnya ayam betina — atau sebut saja ibu ayam di kandang baterai yang hanya bisa bertelur tanpa kebebasan bergerak. “Komik membuat orang lebih relate. Tidak harus baca data statistik panjang, tapi langsung bisa tersentuh,” jelasnya.

Selain komik digital, Ignadee juga membuat mural di jalanan, media edukasi untuk anak-anak, hingga desain kampanye AFJ seperti banner dan properti aksi. Format visualnya sederhana dan dekat dengan konteks lokal, agar masyarakat lebih cepat menangkap pesan. “Kadang gambar yang polos dan teks singkat bisa lebih kuat dibanding penjelasan panjang,” katanya.

Namun, respon masyarakat masih beragam. Banyak yang mudah bersimpati pada anjing atau kucing, tapi defensif saat berbicara tentang hewan yang diternakkan. Meski begitu, Ignadee yakin langkah kecil bisa membawa perubahan. “Mulai dengan cari tahu, pahami praktik yang tidak pantas seperti kandang baterai, lalu dukung alternatif yang lebih etis. Pola makan nabati juga sudah banyak tersedia di Indonesia, sehat dan mudah dijangkau,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous

Pertemuan Regional Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Pertama Digelar di Bali, Dorong Pembentukan Komite Penasihat Nasional

Next

Laporan Terbaru: 92% Komitmen Telur Bebas Sangkar di Seluruh Dunia Telah Terpenuhi, Menandai Titik Balik bagi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan