Yogyakarta, 30 Juli 2025 — “Sunyi bukan berarti tidak ada.” Kalimat ini menjadi kunci dalam talkshow Radio Love Jogja FM yang menghadirkan Wanggi Hoed, seniman pantomime yang telah 20 tahun berkarya, bersama Animal Friends Jogja (AFJ). Dalam siaran bertema “Bersuara Tanpa Suara”, mereka mengangkat kekerasan tersembunyi dalam industri telur, khususnya terhadap ayam petelur dalam kandang baterai.
Wanggi menyampaikan bahwa isu kesejahteraan hewan seringkali tertindih oleh kompleksitas isu lain. “Ayam petelur menjadi simbol kekerasan sistemik yang luput dari perhatian,” jelasnya. Dengan riset mendalam, observasi gerak hewan, dan pendekatan gestur visual, Wanggi menyusun aksi diam yang mampu menggugah publik—dari anak-anak, peternak, hingga masyarakat umum.
Pementasan pantomimenya tak hanya menarik perhatian, tapi juga membuka ruang dialog. “Setelah aksi diam, kami lanjutkan dengan percakapan. Di situlah empati tumbuh dan kesadaran lahir,” ujar Wanggi.
Aksi diam Wanggi telah berlangsung di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Ia bahkan menggunakan simbol tubuh seperti menyurupai ayam petelur dalam kandang baterai, untuk menunjukkan bahwa sistem bebas sangkar (cage-free) bisa dijalankan tanpa menyiksa hewan.
AFJ menyambut kolaborasi ini sebagai bentuk advokasi kreatif yang menyentuh dimensi baru dalam kampanye Cage Free Indonesia. “Seni bukan sekadar medium. Ia bisa menggerakkan, mengingatkan, dan menginspirasi perubahan nyata,” ujar Dian, perwakilan AFJ.
Wanggi menambahkan bahwa perubahan butuh waktu, namun harus dimulai dari tindakan terdekat: membangun imajinasi publik, mengedukasi lewat sosial media, dan menciptakan ruang diskusi. Meski tantangan seperti pembungkaman ruang publik atau ketidaksiapan stakeholder masih ada, ia yakin suara sunyi ini akan berdampak.
“Ini bukan hanya tentang ayam. Ini tentang bagaimana kita memperlakukan makhluk hidup lain di bumi yang sama.”