Yogyakarta, 24 September 2025 — Animal Friends Jogja (AFJ) bersama Across Species Project Indonesia (ASPI) menyoroti isu kesejahteraan itik petelur yang mulai terabaikan seiring meningkatnya penggunaan sistem kandang baterai. Dalam program Ngobrol Bareng AFJ di Radio Love Jogja FM, Rabu (24/9), dua narasumber menekankan pentingnya perhatian terhadap kebutuhan dasar itik sebagai makhluk hidup yang mampu merasakan.
“Kita sering mendengar soal kesejahteraan ayam petelur, tapi jarang sekali itik petelur. Padahal, keseharian kita dekat dengan produk seperti telur asin atau martabak. Di Indonesia ada sekitar 43 juta itik—peringkat keempat dunia menurut data BPS. Karena keterbatasan lahan, banyak peternak beralih dari sistem gembala ke kandang baterai. Padahal, mereka butuh ruang gerak, akses air, dan kenyamanan supaya tidak stres. Kita perlu memperlakukan itik lebih baik, sama seperti makhluk hidup lainnya,” ujar Lolita Saras, Co-Founder & Co-Executive Director ASPI.
Menurut Drh. Nuril Qolbi, Field Researcher & Animal Welfare Officer ASPI, isu paling mendesak dalam peternakan itik saat ini adalah meningkatnya penggunaan kandang baterai. “Berbeda dengan ayam petelur yang memang sejak lama didominasi sistem baterai, pada itik tren ini justru baru meningkat beberapa tahun terakhir. Sayangnya, sistem ini membatasi ruang gerak dan mencegah itik mengekspresikan perilaku alaminya,” jelasnya.
Nuril menambahkan, hasil pengamatan ASPI di lapangan menunjukkan sebagian besar peternakan itik tidak menyediakan akses air untuk mandi atau berenang, padahal itik merupakan unggas semiakuatik yang senang beraktivitas di dalam dan sekitar air. “Dari survei kami di Yogyakarta dan Blitar, hanya sekitar 10 persen peternak yang menyediakan air untuk itik mandi. Padahal aktivitas itu penting untuk menjaga kesehatan kulit, bulu, dan kesejahteraan mereka,” tambahnya.
Selain itu, ASPI juga menyoroti sejumlah faktor teknis seperti kualitas air dan udara serta kepadatan kandang. Ketiga hal ini berperan penting dalam memastikan itik tetap sehat dan produktif. “Kaki itik berselaput dan cocok untuk berjalan di tempat lembap, tapi di kandang kering atau baterai sering terjadi lecet. Kondisi lingkungan yang padat dan minim ventilasi juga dapat memengaruhi kesehatan itik,” kata Nuril.
Lolita menegaskan perlunya penerapan prinsip kesejahteraan hewan dalam setiap sistem pemeliharaan. “Kalau bicara five freedoms dan five domains, itik harus memiliki makanan dan minuman yang cukup, ruang gerak yang memadai, serta kesempatan menampilkan perilaku alami seperti berenang dan bersosialisasi. Mereka juga membutuhkan pemantauan kesehatan oleh dokter hewan untuk menjaga kesejahteraan fisik dan mentalnya,” ujarnya.
ASPI menilai bahwa upaya peningkatan kesejahteraan itik membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. “Kami percaya perubahan harus dilakukan bersama—pemerintah, akademisi, organisasi, peternak, dan korporasi. Publik juga punya peran besar. Konsumen bisa mulai bertanya: telur ini dari sistem cage-free atau kandang baterai? Jika permintaan berubah, pasar juga akan ikut berubah,” tutur Lolita.
Sementara itu, Nuril menambahkan langkah praktis yang bisa dilakukan peternak. “Hindari penggunaan kandang baterai, perhatikan kepadatan, sediakan akses air, jaga sanitasi dan ventilasi, serta pantau kesehatan itik secara rutin. Banyak peternak sebenarnya peduli, tapi belum tahu standar kesejahteraan seperti apa. Pelatihan yang praktis bisa membantu mereka menerapkan sistem pemeliharaan yang lebih baik,” pungkasnya.