Yogyakarta, 28 Mei 2021 — Animal Friends Jogja mengadakan acara sarasehan peternak bersama lebih dari 20 peternak ayam petelur yang berdomisili di DIY di Balai Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Sarasehan peternak ini adalah bagian dari persiapan rencana lokakarya bagi peternak yang masih menggunakan sistem kandang baterai untuk beralih ke sistem bebas kandang baterai yang akan diadakan di tahun ini.
Mengangkat topik Tren Baru Konsumsi Telur Ayam Sejahtera dan Pemanfaatan Peluang Pasar bagi Peternak Lokal, acara ini adalah salah satu langkah Animal Friends Jogja dalam mewujudkan kampanye Indonesia Bebas Kandang yang sudah diluncurkan sejak Maret 2021 lalu, selain juga sebagai ajang meningkatkan kesadaran akan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan di kalangan peternak–sebagai aspek penting dalam terciptanya praktik peternakan yang lebih welas asih dan berkelanjutan–agar dapat mengikuti tren baru dan memanfaatkan peluang pasar.
Tren baru telur ayam sejahtera adalah penerapan standar yang tinggi untuk kesejahteraan hewan dengan sistem alternatif yang tanpa kandang baterai.
Acara ini mempertemukan para peternak dengan para pembicara yaitu Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAn Eng sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DI Yogyakarta dan Dekan Fakultas Peternakan UGM yang mewakili akademisi sekaligus praktisi dalam bidang peternakan, perwakilan dari pemilik resto yang sudah berkomitmen untuk tidak menggunakan telur dari ayam di kandang baterai dan perwakilan dari peternakan ayam petelur sistem postal yang sukses dan peduli pada kesejahteraan hewan: manajer ViaVia Bakery dan Galaksi Telur.
Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAn Eng mengatakan bahwa “Kesejahteraan hewan sama pentingnya dengan kesejahteraan manusia. Ayam petelur dalam praktik peternakan sekarang ini tidak memperhatikan aspek kesejahteraan, ayam tidak bisa melakukan naluri ayam secara alamiah. Menurut penelitian dan pengalaman yang telah dilakukan, perlakuan terhadap ayam ini akan mempengaruhi kualitas telur yang dihasilkan.”
Dalam beberapa tahun terakhir, kesejahteraan hewan telah menjadi masalah tanggung jawab sosial perusahaan yang menjadi prioritas bagi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mengakibatkan pergeseran besar dalam industri makanan global menuju pengadaan produk hewan yang lebih etis.
Perusahaan-perusahaan berkomitmen hanya akan menggunakan telur dari peternakan bebas kandang baterai pada rantai pasokannya. Di Indonesia, tren ini dimulai dengan jaringan raksasa makanan cepat saji Burger King yang mengumumkan komitmennya pada Juni 2020 lalu, bahwa mereka akan sepenuhnya meninggalkan sistem kandang baterai untuk ayam petelur di Indonesia pada tahun 2027. Pada bulan September, Autogrill Indonesia (HMSHost) juga menerbitkan kebijakan serupa dengan tenggat waktu pada tahun 2025. Tak hanya perusahaan global, perusahaan lokal juga turut mengikuti tren ini.
Elly Mangunsong, Koordinator Corporate Outreach Animal Friends Jogja mengatakan: “Di Yogyakarta sudah ada beberapa perusahaan dan restoran seperti Chocolate Monggo, Mediterranea Restaurant, Kebun Roti, ViaVia bakery dan akan terus meluas ke perusahaan lainnya. Perusahaan-perusahaan ini berkomitmen hanya akan menggunakan 100 % telur dari ayam yang sejahtera. Ini adalah peluang bagi peternak untuk dapat mempersiapkan supply dari permintaan pasar yang akan membludak, mengingat belum banyaknya produsen telur bebas kandang baterai yang bisa memenuhi kebutuhan pasokan ini di Indonesia.”
Para peternak tertarik tentang adanya tren baru konsumsi telur sejahtera ini, namun selama ini tidak diimbangi dengan informasi dan pengetahuan yang cukup. Pada acara ini, peternak diberikan kesempatan untuk bertukar informasi dan pengetahuan secara langsung mulai dari pemanfaatan di lahan sempit, cara pemeliharaan dan pengelolaan sistem bebas kandang baterai, perbedaan kualitas telur yang dihasilkan, hingga proses pemasaran dan jaminan pasar telur sejahtera ini.
“Saya sangat tertarik dengan konsep telur ayam sejahtera yang disampaikan oleh Pembicara, saya sebagai peternak berharap ini bukan hanya acara seremonial saja, karena sebenarnya saya sadar hakikat hidup ayam tidak dikurung di kandang baterai seperti itu, dan saya ingin belajar sistem peternakan bebas kandang baterai ini.” disampaikan Hanafi, salah satu peternak dari Kelompok Tani 56 Karangwaru
Pemerintah sebagai pemangku kebijakan sangat dibutuhkan perannya dalam mewujudkan sistem peternakan yang lebih sehat dan benar-benar mengedepankan kesejahteraan hewan. Adanya regulasi yang lebih mendetail dan pro-kesejahteraan hewan yang mengatur tentang setiap praktik yang melibatkan hewan yang dimanfaatkan oleh manusia, terutama dalam hal ini adalah ayam petelur.