Di awal masa pandemi COVID19 lalu, penggunaan disinfektan menjadi hal yang umum di kehidupan sehari-hari. Banyak pintu-pintu masuk kampung dan perumahan mendirikan instalasi disinfeksi mandiri, dan menyemprot siapapun yang melintas di bawahnya.

Menyemprot disinfektan langsung ke tubuh bukanlah praktik yang aman. Disinfektan dapat menyebabkan iritasi jika terkena kulit atau mata, keracunan dan gangguan pernafasan. Disinfektan yang terhirup bahkan bisa mengakibatkan luka di paru-paru.

Namun setiap hari, hewan yang diternak menghadapi risiko terpapar disinfektan. Banyak tayangan di YouTube yang menunjukkan peternak menggunakan berbagai jenis disinfektan, beberapa hasil percobaan sendiri dengan pemutih pakaian, untuk menghambat penyebaran wabah penyakit.

Tidak sedikit dari video itu menunjukkan penyemprotan langsung ke tubuh hewan, meski bukti-bukti ilmiah telah menunjukkan disinfektan berbahaya bagi kesehatan hewan.
Di Cina sendiri, pada Februari lalu terjadi kematian massal hewan liar di kota Chongqing, barat daya Cina. Dari 135 sampel yang diuji, terbukti hewan-hewan liar tersebut mati akibat teracuni disinfektan yang digunakan untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Setidaknya 17 spesies hewan terdampak, termasuk babi hutan, musang, dan burung, menurut Biro Kehutanan Chongqing.

Mengapa sesuatu yang berbahaya pada manusia, dianggap berbahaya pada hewan liar maupun peliharaan, namun diterima sebagai kewajaran pada hewan yang diternak untuk konsumsi?

Tindakan penyemprotan langsung desinfektan pada hewan yang diternak bukan karena itu aman pada hewan. Namun karena kita, manusia, menerapkan standar kesehatan yang lebih rendah pada spesies lain, terutama pada hewan yang diternak untuk konsumsi. Meskipun berbahaya bagi kesehatan hewan, penyemprotan langsung disinfektan pada hewan kita anggap sebagai hal yang wajar, selama itu tidak merugikan, atau bahkan menguntungkan, secara ekonomi bagi manusia.

Untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian bagi seluruh spesies hewan, kita harus menyingkirkan Animal Industrial Complex dari cara pandang kita terhadap hewan. Hal ini bisa kita mulai dengan melihat hewan sebagai individu unik, yang bisa merasakan sakit, memiliki naluri kasih sayang juga mampu mengalami stres sama seperti manusia.

Sebagai mahluk yang mampu berempati, kita pasti bisa menghilangkan Animal Industrial Complex dan mulai memperjuangkan dunia yang aman untuk ditinggali semua spesies.