“ The earth is for all beings, not just human beings”

Para aktivis organisasi nirlaba untuk perlindungan satwa, Animal Friends Jogja, bersama relawan yang tergabung dalam Barisan Muda-Mudi Xayang Xatwa (BMXX), relawan koalisi Act For Farmed Animals (AFFA) dan Feed Not Bomb Solo melaksanakan aksi damai serentak di 4 kota besar di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Solo, Bandung dan Jakarta, Sabtu 20 Maret 2021. Di wilayah Yogyakarta sendiri, aksi dilaksanakan di 5 titik strategis, salah satunya adalah Tugu Yogyakarta. 

BMXX beranggotakan relawan dari seluruh Indonesia yang bergerak memperjuangkan perlindungan bagi hewan yang diternak di bawah koordinasi Animal Friends Jogja. 

Kampanye Indonesia Bebas Kandang (Cage Free Indonesia) adalah pergerakan yang diinisiasi Animal Friends Jogja untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kesejahteraan hewan yang diternak, khususnya ayam petelur, dan untuk menghapuskan sistem kandang baterai yang kejam di Indonesia. Peluncuran kampanye ini diawali dengan pemasangan billboard yang mengungkap kondisi memprihatinkan yang dialami ayam-ayam petelur dalam kerangkeng kandang baterai. Teks yang menyertai, “Hanya Kamu Yang Bisa Mengubah Kehidupan Kami”, dimaksudkan untuk mengajak masyarakat berempati dan berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan hewan yang diternak. Lokasi billboard berada di perempatan Jl. Monjali sebelah utara di sisi timur.

Aksi damai hari ini bertujuan untuk memberi penyadartahuan ke masyarakat tentang fakta-fakta kekejaman di balik sistem kandang baterai.  Aktivis dan para relawan yang memakai topeng ayam membentangkan spanduk serta membagikan stiker yang berisi ajakan untuk mengakses website www.kandangbateraikejam.com 

“Website khusus ini, selain berisi informasi tentang mengapa sistem kerangkeng baterai adalah salah satu sistem terkejam di industri peternakan dan harus diakhiri, juga menyediakan informasi cara-cara bagi masyarakat sebagai konsumen peduli untuk bisa membantu mengakhirinya,” ujar Odyssey Sanco alias Bandizt Shaggydog selaku direktur Animal Friends Jogja.  

Setiap makhluk yang bernyawa berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Seperti halnya manusia, hewan, yang diternakkan sekalipun, juga berhak untuk bebas bergerak dan hidup sejahtera. Hal ini juga sudah diatur dalam UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pasal 6; …penetapan dan pengandangan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga memungkinkan hewan dapat mengekspresikan perilaku alaminya; pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dilakukan dengan sebaik- baiknya sehingga hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan.

200 juta lebih ayam ras petelur di Indonesia dipaksa hidup berjejalan dalam kerangkeng-kerangkeng sempit kandang baterai demi intensifikasi produksi telur, sampai tidak mampu lagi menghasilkan dan berakhir di rumah jagal sebagai ayam afkir. 

“Saking sempitnya kerangkeng-kerangkeng itu, ayam-ayam sama sekali tidak bisa mengekspresikan perilaku alamiah yang sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraannya seperti berjalan-jalan, menggaruk tanah untuk mencari makanan, mandi debu, bertengger di dahan tinggi, memenuhi naluri bersarang untuk bertelur dan sebagainya. Sekedar merentangkan sayap pun tidak bisa!”, ungkap Angelina Pane, Manajer Program dan aktivis Animal Friends Jogja, ”Apakah itu bukan bentuk penyiksaan terhadap hewan dan pelanggaran terhadap UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan?”, tukasnya.

Studi mengenai masalah kesejahteraan ayam di kandang baterai yang dipublikasikan di The Veterinary Record—jurnal mingguan yang diterbitkan oleh British Veterinary Association yang berisi berita, komentar, surat dan makalah penelitian klinis yang mencakup berbagai topik kedokteran hewan—menyebutkan bahwa sistem peternakan kandang baterai menyebabkan ayam menderita stres dan frustasi sepanjang hidupnya dan memiliki masalah kesehatan yang parah seperti deformasi tulang dan osteoporosis.

“Selain terbukti menyebabkan penderitaan yang amat sangat, penelitian yang diterbitkan oleh The European Food Safety Authority pada tahun 2019 mengenai kontaminasi Salmonella dalam berbagai metode produksi telur ayam juga mendapati probabilitas kontaminasi yang lebih tinggi di telur dari peternakan sistem kerangkeng baterai dibandingkan yang dari peternakan bebas kerangkeng.”, kata Sylvia Maharani, Manajer Kampanye Animal Friends Jogja.

“Saya percaya masyarakat Indonesia peduli dengan kesejahteraan hewan, untuk keberlangsungan lingkungan hidup dan kesehatan manusia juga.”, tambah Odyssey direktur Animal Friends Jogja yang lebih dikenal dengan nama panggung Bandizt.

“Peran serta dan dukungan masyarakat peduli akan dapat secara signifikan mengurangi penderitaan hewan, melindungi bumi dan menciptakan dunia yang lebih baik dan welas asih untuk semua.”, tutup Bandizt yang juga aktivis pergerakan vegan di Indonesia.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *