Bayangkan kamu hidup di kamar selama dua bulan, tanpa kesempatan meninggalkan kamarmu untuk alasan apapun. Itu tentu akan membuatmu stres.

Begitu juga yang dirasakan ayam yang digunakan dalam produksi telur. Mereka tinggal dalam kerangkeng, tidak hanya dua bulan tapi dua tahun!

Tinggal dalam kerangkeng membatasi kehidupan alami ayam, menyebabkan kebosanan hingga stress, yang memicu munculnya sifat angresif. Akhirnya ayam akan saling mematuk dan melukai, satu gejala kanibalisme.

Untuk menekan jumlah korban akibat kanibalisme, industri peternakan menerapkan praktik mutilasi paruh, yaitu memotong paruh ayam dengan belati panas agar paruh menjadi rata. Kamu bisa melihat proses pemotongan paruh di post instagram ini (peringatan, mengandung visual kekerasan)

Paruh bayi ayam dipenuhi oleh jaringan saraf dan merupakan organ fungsional yang kompleks. Beberapa perubahan fisiologis dapat terjadi pada saraf yang terputus dan jaringan yang rusak akibat belati panas, menimbulkan rasa nyeri akut jangka panjang. Pemotongan paruh juga berdampak ke psikologi bayi ayam, membuatnya tidak aktif bermain, lesu dan berkurang kewaspadaan terhadap ancaman.

Karena sistem peternakan kerangkeng adalah akar persoalan, maka yang dibutuhkan ayam adalah ruang hidup yang luas dan bebas, bukannya praktik pemotongan paruh.

Lingkungan yang luas akan memberi ayam kesempatan berinteraksi dengan lingkungan, menjalankan perilaku alaminya seperti bersarang dan mandi debu, perilaku penting yang dibutuhkan ayam agar tidak stres.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *